CERPEN 01
CINTA TAK BERUJUNG WALAU HIDUP BEGITU PENDEK
(Teriring Salam Buat Pembentuk Jiwaku di Sana)
Oleh Behn Tolang, S.Pd
Waktu hujan sore itu, aku mengambil sebuah buku catatan lama waktu di kampus lalu kubaca isinya yang tak lain berisikan ilmu pengetahuan yang aku pelajari sehari-hari di kampus. Aku tidak sempat membaca sampai tuntas buku tersebut karena hayalanku mulai mengambang meninggalkan saat ini menuju masa silam yang meninggalkan banyak cerita usang namun mengasyikkan. Kuhidupkan Computer Pentium empatku, lalu mulai mengetikan perjalanan panjangku saat menggeluti dunia perguruan tinggi.
Semasa duduk di bangku Perguruan tinggi, aku selalu menjadi idola oleh rekan-rekanita mahasiswa dan para dosen. Bukan karena wajahku tampan, wajahku tak jauh berbeda dengan sahabat-sahabatku yang lain. Bukan pula aku hartawan, aku cuma anak seorang petani dari desa. Tapi itulah aku, sejak merantau ke kota besar, aku merasa perlu ada percaya diri dalam menjalani kehidupan sebatang kara di negeri orang. Semangat belajar dan prestasiku yang membuat aku begitu difans oleh banyak orang. Pergaulanku yang baik membuat aku semakin disanjung oleh mereka. Setiap kegiatan kampus, aku selalu dilibatkan dalam panitia inti. Kalau bukan ketua panitia, berarti sekretaris rangkap seksi dekorasi. Dalam banyak hal, aku begitu berarti bagi mereka. Aku menulis apa adanya sesuai dengan kenyataannya. Aku tidak ingin membangga-banggakan diriku sendiri tapi itulah aku.
Aku teringat lagi pada seorang gadis yang hampir menjadi soulmateku waktu itu. Namanya Mona. Aku sangat menyanjung plus mencintainya. Ia pun menaruh hatinya padaku namun kami sama-sama diam. Tak pernah ada kata cinta dari hati yang terungkap. Hal tersebut berlangsung sampai semester 5, jujur saja aku hanya mampu mengagumi kecantikan wajah dan hatinya lantaran ada seorang sahabatku yang lebih membutuhkan cinta dari Mona. Akulah yang kini bertindak sebagai Pak Jomblang untuk mengaitkan dua hati yang berbeda. Tapi dasar sial, kawanku yang agak pemalu dan lugu itu tak mampu berbuat banyak. Aku sudah mengadakan pendekatan secara intern kepada Mona dan Mona pun dengan berat hati mengiyakan namun dengan catatan bahwa Si Thono yang harus memulainya terlebih dahulu dalam hal mengungkapkan perasaan di hati. Sementara Thono tidak pernah mengungkapkan apapun padanya. Dua minggu kemudian Si Thono malah menjalin hubungan cinta dengan seorang janda beranak satu namun masih terlihat seperti gadis hijau daun kenari yang centil namun selalu menggoda hati.
Aku jadi serba salah. Seharusnya aku tak pernah berperan menjadi seorang pak jomblang untuk sahabat karibku tapi semuanya telah berlalu. Aku juga ingin menjomblangi diriku sendiri namun aku tak mau dibilang seorang pengecut. Toh, aku juga sudah punya tiga orang kekasih. Untuk apa lagi aku harus memperbanyak daftar kekasih di hati. Kuurungkan saja niat baikku itu sampai aku selesai ujian skripsi. Sambil menunggu wisuda, aku pulang ke kampung halaman dengan maksud sekedar refresing. Namun di sana aku malah ditawari pekerjaan. Sambil menyelam, minum air sekalianlah.
Begitulah kehidupan. Selalu berubah-ubah dan terkadang tidak seperti yang kita duga sebelumnya.
Sebelum kuakhiri tulisanku, tiba-tiba saja pintu depan digedor oleh seseorang. Aku beranjak dari monitor koputerku lalu membukakan pintu. Jantungku hampir saja berhenti berdetak, aliran darahku sekejap berhenti mengalir, pikiranku melayang-layang. Jauh. Sangat jauh terasa. Di depan pintu telah berdiri sesosok wanita tercantik yang pernah kutemui dalam perjalanan hidupku. Dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan, dia tersenyum ramah seramah waktu kami saling menaruh perasaan hati sambil menyerahkan sepucuk kertas usang dan lembab, ia lalu berucap “Selamat Ulang Tahun ya, semoga kamu tetap menjadi yang terbaik dan mendapatkan yang terbaik pula dalam mengarungi pahit getirnya kehidupan ini, doa dan hatiku selalu bersamamu selamanya”
Aku baru tahu kalau ternyata hari itu adalah hari ulang tahunku yang ke-25.
Belum sempat kutanggapi pernyataannya, ia sudah berpaling dan pergi lalu menghilang di balik kegelapan malam. Aku baru tersadar seolah tadi aku bermimpi ketika tanganku dingin dan basah karena lembaran tadi yang memang basah, tiba-tiba saja aku tersentak kaget ketika hand phone yang ada di saku celana panjangku berbunyi. Rupanya ada orang yang menelponku. Kuangkat telpon itu lalu berbicara dengan orang yang menelponku.
“Halo…. Selamat malam….. Thono….!!!!” Kataku agak kaku
“Evan…. Sahabat kita….!!!!” Katanya terhenti sesaat.
“Bagaimana dengan sahabat kita dan siapa sahabat yang kamu maksudkan????” kataku semakin penasaran.
“Mona kecelakaan motor saat pulang dari kampus. Waktu dilarikan ke rumah sakit, nyawanya sudah tidak tertolong. Ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Sekarang kami sedang di rumahnya. Aku teringat kamu makanya aku memberi kabar kepadamu….!!!!” Katanya datar.
Telepon terputus sampai disitu.
“Oh My God, lalu yang datang tadi siapa???? Bukankah Mona baru saja mengunjungi aku????”. Kataku sangat pelan sampai bila ada orang yang ada di dekatku sekalipun tidak dapat mendengarkan apa yang barusan aku katakana.
Aku segera teringat akan selembar kertas usang yang sedang kupegang, kubuka perlahan lalu kubaca isinya, kata demi kata, kalimat demi kalimat dari salam pembuka sampai akhirnya salam penutupnya.
Buat sahabatku Evan yang sangat kucintai…..!!!!
Sebelum tinta terakhir ini kuukir di atas kertas ini, aku ingin meminta maaf padamu karena tidak dapat menjadi yang terbaik tuk temani setiap langkah kakimu dan hidupmu….
Dulu aku begitu bahagia saat bersamamu walau sebagai sahabat…. Aku sangat bersyukur karena engkau selalu menaruh rasa perhatianmu padaku. Namun saat engkau biarkan aku dicintai oleh sahabatmu Thono, aku tidak dapat menolak walaupun pada akhirnya ia tidak pernah sukses mencintaiku. Ia memilih orang lain, dan aku pikir engkau akan datang padaku tuk katakan bahwa engkau mencintaiku, tapi semua itu tidak jua engkau lakukan hingga kita berpisah. Akhirnya aku pendam rasaku padamu sampai saat ini. Sebulan yang lalu, ada seorang pemuda datang untuk melamarku, pemuda itu tak lain adalah pria pilihan ibuku dan aku tidak bisa mencintainya. Mengapa???? Karena di hatiku hanya ada kamu. Tidak mudah bagiku untuk mencintai pria lain.
Lusa ini kami akan melangsungkan pernikahan. Surat undangan pun sudah dibagikan. Dan aku tadi masih sempat singgah di kampus tuk mengundang kawan-kawan seperjuangan kita. Saat dalam perjalanan pulang, pikiranku menjadi semakin kalut antara menikah dengan orang yang tidak sedikitpun aku cinta atau menunggu engkau yang aku cintai datang dan membawa aku pergi dan bahagia bersamamu, dan pada akhirnya dengan sadar kutabrakkan kenderaanku pada sebuah truk besar yang biasa mengangkut sampah yang lari dengan kecepatan sangat tinggi. Benturan di kepalaku sangat besar dan banyak mengeluarkan darah segar, namun diperjalanan, aku masih menyempatkan diri untuk bersurat padamu. Aku ingin menitipkannya pada Thono tapi aku takut suratku tak kesampaian padamu, jadi aku sendirilah yang mengantarnya untukmu yang aku kasihi. Yang ingin aku katakana padamu bahwa aku selalu mencintaimu dan terus mencintaimu sampai suatu waktu kelak aku bisa memelukmu erat di sana….!!!! Aku tidak bisa lagi meneruskan tulisan ini karena kepalaku terasa pusing dan aku ingin istirahat sejenak…!!!!. Jaga dirimu baik-baik ya sayang.
Salam manisku hanya untukmu seorang yang aku sayangi, sampai berjumpa kelak di mana pun itu!!!!.
Mona
Selesai membaca tulisan itu, aku pun tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan diriku…. Semua yang ada disekitarku terlihat begitu gelap….. dan aku terus berjalan dalam kegelapan itu sampai kutemukan setitik pijar, di bawah pijar itu ada sebatang pohon, di bawah pohon tersebut duduk seorang wanita dengan busana serba putih… kucoba tuk hampiri, kuperhatikan dan kutahu ternyata gadis itu tak lain adalah Mona sahabatku yang sangat kucintai….Aku memanggil namanya dan ia melihatku dengan tatapan penuh kebahagiaan lalu berlari menghampiri diriku dan memelukku erat. Sangat erat. Mungkin seperti yang pernah ia tulis pada surat terakhirnya buat aku.
“Akhirnya kita dapat bertemu jua. Dekapan ini sudah kurindukan sejak aku mengenalmu dan aku tak ingin berpisah lagi darimu walau hanya sedetik….!!!! Katanya begitu bersemangat. Aku hanya mengangguk perlahan sambil tersenyum.
Kami saling mempererat dekapan masing-masing hingga tak mungkin ada lagi yang mampu memisahkan kami.
Dari kejauhan samar terdengar suara ibuku “Lihatlah….Anakku sudah siuman….Syukur Allhamdullilah….!!!!” Kata ibuku sambil memeluk erat tubuhku.
Aku kebingungan…. saat melihat ayah dan juga adik-adikku berada di samping tempat tidurku. Keherananku semakin bertambah lagi saat melihat seorang dokter datang menghampiri diriku dan berkata kepada ayahku.
“Ia hanya kelelahan dalam berpikir, jadi jangan lagi bebankan pikirannya dengan masalah yang berat. Biarkan ia beristirahat lagi….besok pagi ia boleh pulang ke rumah”. Kata sang dokter lalu bergegas pergi.
Kulihat tanganku, ternyata kertas usang itu masih ada ditanganku. Kudekap ke dadaku dan semakin erat…….seerat dekapan Mona padaku. Air mataku menetes di belahan pipiku….!!!! Semua yang hadir saat itu pun turut menangis, tapi entah apa dan siapa yang mereka tangisi.
SEKIAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar